28 March, 2012

Kadang, aku berpikir, 'Dimana aku bisa hidup nyaman?'

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 
. . . . . . . . . . . . . . . . . . .  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 
. . . . . . . . . . . . . . . . . . .  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 
. . . . . . . . . . . . . . . . . . .  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 


Sebuah pertanyaan bodoh yang harusnya tidak aku ucapkan. Karena harusnya aku menyadari. Tempat yang selama ini kucari adalah rumahku sendiri. Beruntungnya diriku, bisa memiliki lebih dari satu rumah. Meskipun bukanlah rumah secara nyata (di dalam gua, hahaha, we call it as GO). 

Rumah pertama, adalah rumahku yang sebenarnya (dalam kehidupan nyata senyata-nyatanya). Rumah dimana aku tumbuh. Disini adalah tempat pertama kali aku menapakan kaki di dunia ini. Banyak memori di rumah kecil di tengah-tengah perkampungan yang padat. bekas-bekas luka jadi bukti bahwa rumahku memang tempat memorable, contohnya adalah bekas luka di alis sebelah kanan yang aku dapat saat aku belajar merangkak. Kata ibu, luka ini aku dapat karena aku menabrak meja. Lucu memang. sebuah luka kecil namun penuh makna.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 
. . . . . . . . . . . . . . . . . . .  . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 
Di rumah ini aku pernah mengalami berbagai suasana, berbagai fase. Aku pernah bahkan sering diajarkan rasanya 'sendirian' seperti tidak ada mahluk lain di bumi ini. Membisu , Membatu. Tapi di dalam pikiranku, aku terus berjalan. Aku sangat merindukan bapak, ibu, kakakku yang berisik, kakakku yang menyebalkan, gosipan kakak iparku, Teriakan nenek dan juga senyum manis keponakanku tersayang. Ahhh, andaikan aku bisa mendapatkan satu hari dalam hidupku, dimana kami berkumpul bersama, melakukan hal-hal menyenangkan bersama. Sayangnya, sampai saat ini hari yang kutunggu tak kunjung tiba. Tapi aku tidak berputus asa. Kami semua memang sibuk dengan dunia kami sendiri. Tapi, kami selalu berjuang bukan untuk diri sendiri. Aku harap suatu saat nanti mereka tahu, betapa aku menyayangi mereka. Meskipun terkadang aku kukuh dengan keegoisan dan kelabilanku. Tapi mereka harus percaya, aku selalu berusaha mendengarkan kata-kata mereka. Aku selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk mereka. Yah, begitulah keluarga. Tenang dan jauh, tapi aku yakin kami saling merindu.

Berbicara mengenai sudut-sudut penuh memori di rumah mungilku, saat ini tempat yang paling nyaman adalah kamarku. Disini aku bebas melakukan apapun, bermimpi apapun, berangan apapun. Hal bodoh yang selalu ku lakukan saat aku masih sangat labil adalah mengunci rapat pintu kamarku sambil menangis ketika aku sangat lelah namun tidak ada yang memperdulikanku. Yah, aku sendiri heran dengan diriku, kenapa aku tidak berkeluh kesah saja? Malah mengunci diri. Itulah fase alay nan labilku. Barangkali kini aku sudah naik satu fase. Menjadi seorang ababil. Tempat yang tak kalah menyenangkan adalah kamar ibu. Saat aku sakit atau sedang tidak tenang, aku ingin berada di dekat ibu. Tidur disampingnya dan berharap mendapat pelukan hangat darinya. Di kamar itu, banyak gosip dan cerita yang sering kuselipkan ketika aku merindukan ibu. How sweet :)

Aku tidak pernah berharap jika suatu hari nanti rumah ini dijual untuk mendapatkan yang lebih baik. Aku tahu, suatu hari nanti aku akan meninggalkan ruangan-ruangan di rumah mungil ini. Namun, rumah ini terlalu banyak merekam hidupku. Banyak hal indah bahkan menyedihkan yang telah disaksikan rumah ini. Meskipun suatu hari nanti, rumah ini akan menjadi rumah yang paling jelek di kota ini. Namun aku tidak akan pernah rela jika rumah ini dipindahtangankan kepada orang lain. Rumahku adalah tempat paling indah.

My sweet home, sweet family. Happy to be here. One day, I'll miss you badly!